Sabtu, 28 Januari 2012

AKU

Namaku lengkapku Jalaluddin Hayat, aku dilahirkan dijambi pada tanggal 11 april 1983, dari ayah bernama Ibrahim bin Wahid dan ibu bernama Zuhriah binti Yunus. Aku merupakan anak ke empat dari sepuluh bersaudara. Ernawati, Miftahul Jannah. M. Sobri, adalah tiga orang kakak yang lebih tua dariku, sedangkan adik-adiku M. Rizal, Zulkifli, Rara Yulianti, Jasila, Sarlita, dan yang paling Bungsu adalah M. Ilhamudin.

Aku dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang boleh dikatakan kurang mampu dari segi ekonomi. Ayah bekerja Cuma sebagai pembuat gula aren sedangkan ibu ditengah kesibukannya sebagai seorang ibu rumah tangga juga ikut membantu berkebun menanam pisang. Penghasilan ayah boleh dikatakan sangat kurang untuk mencukupi kebutuhan hidup kami sekeluarga, dengan jumlah anak yang banyak dan dengan berbagai macam kebutuhannya. Tapi aku bangga pada mereka berdua ibu dan ayahku, walaupun kehidupan yang sangat sulit tapi mereka begitu rasa perhatiannya terhadap kami anak-anaknya terutama untuk selalu belajar.

Perjalanan hidup memang terkadang tidak bisa ditebak, saat usiaku 12 tahun sang ayah dipanggil menghadap kehadirat-Nya. Ayahku meninggal karena penyakit tumor jinak yang dia derita. Penyakit yang sudah begitu lama beliau derita serta mahalnya  biaya berobat membuat penyakit tersebut bertambah parah.

Sejak kepergian beliau ibu dan Abang tertuaku yang bernama M. Sobri lah yang berjuang memenuhi kebutuhan hidup kami sekeluarga. Dan ujian tidak sampai disitu, pada tahun 2002 ibuku juga meninggal dunia dikarena penyakit jantung yang sudah kronis dideritanya. Bagaikan kapal yang kehilangan nakhodah kami menjalani hidup dan cara kami sendiri-sendiri. Lingkungan yang buruk seakan telah menyulap hidupku seratus persen dari kehidupan sebelumnya. Pergaulan serta apa-apa yang dilakukan membuat aku semakin terjerumus dalam lubang kenistaan. Masalah demi masalah terjadi, hingga pada akhirnya aku mulai merasakan kejenuhan dengan hidup yang ku jalani. Hingga pada awal tahun 2003 aku mulai mengambil sikaf untuk langkah hidupku, aku tidak mau terus-menerus seperti ini, aku harus bangkit, sudah terlalu banyak perbuatan buruk yang telah aku lakukan. Dan salah satu jalan berubahan tersebut aku harus hijrah dari tempat atau lingkunganku saat itu. Setelah berfikir dengan sangat akhirnya aku memutuskan untuk merantau kepalembang.

Mulai saat itu dengan berbagai macam ujian aku tetap terus bertahan untuk demi hidup yang lebih baik lagi. Dan Alhamdulillah kini kehidupan jauh lebih baik, aku sekarang sudah berkeluarga, istriku bernama Meika Latifah, dan yang paling mengembirakan aku sekarang sudah memiliki seorang anak, anak pertamaku yang aku beri nama Naufal Mukhlasin Afkar.


Ya Allah hamba mohon kepadamu... jadikanlah sisa umur ini dengan banyak hal yang bermamfaat yang bisa aku lakukan. Ampuni aku ya Allah.... karena aku tau tanpa izin-Mu dan Tanpa Ampunan-Mu aku tidak bisa berbuat apa-apa, dan aku bukan apa-apa.     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar